Terminal Jati Pariaman Akhirnya Diperhatikan: Perjuangan Zigo Rolanda dan Harapan Baru bagi Penumpang
iNews Pariaman– Setelah empat tahun terbengkalai dalam kondisi yang memprihatinkan, Terminal Jati Kota Pariaman akhirnya mendapatkan secercah harapan. Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Zigo Rolanda, menjadi penggerak utama dalam upaya memperjuangkan nasib terminal yang telah diserahkan kepada Kementerian Perhubungan sejak 2021 namun tak kunjung mengalami peremajaan.
Tinjauan yang dilakukan Zigo mengungkap kondisi yang memilukan. Terminal yang seharusnya menjadi gerbang utama transportasi darat Kota Pariaman itu, justru dipenuhi dengan berbagai kerusakan pada sarana dan prasarananya. Kondisi ini bukan hanya sekadar persoalan estetika, tetapi telah berdampak langsung pada kenyamanan, keamanan, dan pelayanan yang tidak optimal bagi ribuan penumpang yang mengandalkannya setiap hari.
Kondisi Memprihatinkan di Balik Tembok Terminal
Meski tidak dijelaskan secara rinci, kerusakan yang terjadi diduga mencakup infrastruktur dasar yang vital. Bayangkan para penumpang yang harus berteduh di atap yang bocor ketika hujan, berjalan di lantai yang retak dan tidak rata, atau kesulitan menemukan fasilitas sanitasi yang layak. Ruang tunggu yang sempit dan panas, sistem penerangan yang minim, serta area pemberhentian kendaraan yang tidak tertata menambah daftar panjang penderitaan pengguna jasa terminal.
Kondisi ini merupakan ironi. Sejak diserahkelolaakan penuh kepada pemerintah pusat, justru pembangunan dan perawatan Terminal Jati seolah terhenti. Masyarakat Pariaman, yang berharap pada peningkatan pelayanan, justru harus menerima kenyataan bahwa terminal mereka semakin menua dan tak terurus.
Perjuangan di Meja Rapat: Dari Usulan Menjadi Kenyataan
Menyikapi kondisi ini, Zigo Rolanda tidak tinggal diam. Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi V dengan Kementerian Perhubungan pada Agustus 2025, ia bersama anggota lainnya secara vokal mengusulkan program revitalisasi untuk tiga terminal di Sumatera Barat yang dinilai paling membutuhkan. Tiga terminal tersebut adalah Terminal Jati Kota Pariaman, Terminal Bareh Solok di Kota Solok, dan Terminal Kiliran Jao. Usulan ini bukanlah daftar keinginan, melainkan sebuah kebutuhan mendesak yang didasari oleh fakta di lapangan.
Dan hasilnya pun membanggakan. Dari ketiga usulan tersebut, perjuangan Zigo dan rekan-rekannya membuahkan hasil. Revitalisasi Terminal Jati Pariaman akhirnya disetujui untuk dilaksanakan pada tahun 2025 ini. Kabar gembira ini datang dengan rencana pendanaan yang konkret, yaitu memanfaatkan sisa anggaran kegiatan sebesar Rp1,7 miliar.
“Kami bersyukur, usulan untuk merevitalisasi Terminal Jati Pariaman ini disetujui,” ujar Zigo Rolanda, mengungkapkan apresiasinya. Dengan proses tender yang dikabarkan telah selesai, langkah menuju terminal yang lebih baik kini tinggal menunggu waktu eksekusi di lapangan.
Menatap Masa Depan: Percepatan dan Harapan
Zigo Rolanda menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan revitalisasi oleh Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Sumatera Barat. Dalam pernyataannya, ia menyampaikan harapan yang sama dengan yang dirasakan masyarakat: “Kami berharap pekerjaan ini dapat diselesaikan hingga akhir tahun ini, sehingga kualitas pelayanan di Terminal Jati dapat meningkat dan masyarakat dapat merasakan manfaatnya secara langsung.”
Pernyataan ini bukan hanya sekadar retorika politik, melainkan sebuah komitmen untuk memastikan bahwa anggaran negara yang digelontorkan benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh rakyat dalam waktu yang singkat.












